Kursus Sablon 1

Assalamu’alaykum,,

Senang sekali bisa bersama anda pada kesempatan kali ini. Dan kita akan membahas  step by step alias tahapan demi tahapan belajar sablon bagi pemula.

Sebelum kita menemui media2 yg beraneka ragam sebagai produk akhir dari kegiatan menyablon, maka kita akan mempraktekkan pada media kertas terlebih dahulu. Sedangkan media sablon yang lain ada plastik, sticker, kayu, kaca, keramik, mika, dan masih banyak lagi.

Sebelum memulai praktek, tentu saja kita harus mengetahui peralatan apa saja yang musti kita persiapkan. Nah,,sebagai perlengkapan dasar, kita perlu :

1.   Screen

2.  Penggaris plastik ukuran 20 cm

3.  Obat Afdruk (khusus kertas)

4.  Kaca bening dengan ketebalan 5 mm, dan lebar menyesuaikan ukuran   screen

5.   Kipas angin / Hair dryer

6.  Sponge berwarna gelap / hitam dengan ketebalan 5 – 7 cm dan lebar menyesuaikan ukuran screen

7.  Papan tebal ukuran lebar menyesuaikan screen.

Nah itulah ketujuh peralatan dasar yang kita butuhkan. Karena hal pertama yang akan kita bahas adalah membuat Negatif Film.

(bersambung….)

4.

Akhlaqul Karimah

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرِ الْكَبِيْرَ، وَ يَرْحَمِ الصَّغِيْرَ، وَ يَأْمُرْ بِاْلمَعْرُوْفِ، وَ يَنْهَ عَنِ اْلمُنْكَرِ. احمد و الترمذى و ابن حبان فى صحيحه

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan menyayangi yang muda, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran”. [HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya]

 

Hafal al Qur’an adalah impian setiap mukmin

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran,
maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

[S. al-Qamar: 17]

Ayat ini memperkuat bahwa al-Quran itu dimudahkan bagi
orang-orang yang suka untuk berdzikir (mengingat Allah), dan
permudahan al-Quran ini meliputi bacaannya, hafalannya,
pemahamannya, perenungannya, dan keajaiban-keajaibannya.

Dan akan menjadi teramat sulit ketika seseorang

berusaha menghafalkannya, tanpa disertai dengan taddabur,

perenungan terhadap kandungan al Qur’an tersebut, tapi dengan ayat di atas

sungguh Allah akan memudahkan bagi mereka yg mau

terus berusaha….

AYOO MEMBACA …..

Sekali Lagi Pembahasan Tentang BID’AH

 

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : “Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I’tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)

Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
“Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan”.
Para shahabat bertanya : “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : “Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku”.

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)

Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”.
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)”

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
“Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)”

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :

Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).

Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.

Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam

 (Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah)

Akankah Amalku Di Terima ?

Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?

Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:
Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)

Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.

Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.

Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.

Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)

Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)

Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.

Amal
Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:
Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)

Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169

Allah berfirman:
Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170
Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:

Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)

Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

Syarat Diterima Amal
Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:
Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman;
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)

Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:
“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.
Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.
Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.
Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)

Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396
Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.
Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.

adakah Bid’ah Hasanah?

Banyak alasan yang dipakai orang-orang untuk ‘melegalkan’ perbuatan bid’ah. Salah satunya, tidak semua bid’ah itu jelek. Menurut mereka, bid’ah ada pula yang baik (hasanah). Mereka pun memiliki dalil untuk mendukung pendapatnya tersebut. Bagaimana kita menyikapinya?

Di antara sebab-sebab tersebarnya bid’ah di negeri kaum muslimin adalah adanya keyakinan pada kebanyakan kaum muslimin bahwa di dalam kebid’ahan ini ada yang boleh diterima yang dinamakan bid’ah hasanah. Pandangan ini berangkat dari pemahaman bahwa bid’ah itu ada dua: hasanah (baik) dan sayyiah (jelek).
Berikut ini kami paparkan apa yang diterangkan oleh Asy-Syaikh As-Suhaibani dalam kitab Al-Luma’: Bantahan terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah

Syubhat pertama:

Pemahaman mereka yang salah terhadap hadits:
“Barangsiapa membuat satu sunnah (cara atau jalan) yang baik di dalam Islam maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat satu sunnah yang buruk di dalam Islam, dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (Shahih, HR. Muslim no. 1017).
Bantahannya
Pertama: Sesungguhnya makna dari (barangsiapa yang membuat satu sunnah) adalah menetapkan suatu amalan yang sifatnya tanfidz (pelaksanaan), bukan amalan tasyri’ (penetapan hukum). Maka yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan yang ada tuntunannya dalam Sunnah Rasulullah r. Makna ini ditunjukkan pula oleh sebab keluarnya hadits tersebut, yaitu sedekah yang disyariatkan.
Kedua: Rasul yang mengatakan:
“Barangsiapa yang membuat satu sunnah (cara atau jalan) yang baik di dalam Islam.”
Adalah juga yang mengatakan:
“Semua bid’ah itu adalah sesat.”
Dan tidak mungkin muncul dari Ash-Shadiqul Mashduq (Rasul yang benar dan dibenarkan) r suatu perkataan yang mendustakan ucapannya yang lain. Tidak mungkin pula perkataan beliau r saling bertentangan.
Dengan alasan ini, maka tidak boleh kita mengambil satu hadits dan mempertentangkannya dengan hadits yang lain. Karena sesungguhnya ini adalah seperti perbuatan orang yang beriman kepada sebagian Al-Kitab tetapi kafir kepada sebagian yang lain.
Ketiga: Bahwasanya Nabi r mengatakan (barangsiapa membuat sunnah) bukan mengatakan (barangsiapa yang membuat bid’ah). Juga mengatakan (dalam Islam). Sedangkan bid’ah bukan dari ajaran Islam. Beliau juga mengatakan (yang baik). Dan perbuatan bid’ah itu bukanlah sesuatu yang hasanah (baik).
Tidak ada persamaan antara As Sunnah dan bid’ah, karena sunnah itu adalah jalan yang diikuti, sedangkan bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan di dalam agama.
Keempat: Tidak satupun kita dapatkan keterangan yang dinukil dari salafus shalih menyatakan bahwa mereka menafsirkan Sunnah Hasanah itu sebagai bid’ah yang dibuat-buat sendiri oleh manusia.
Syubhat kedua:
Pemahaman mereka yang salah terhadap perkataan ‘Umar bin Al- Khaththab z: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah)”.
Jawaban atas syubhat ini:
1. Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan – bahwa bid’ah itu ada yang baik, namun sesungguhnya, kita kaum muslimin mempunyai satu pedoman; kita tidak boleh mempertentangkan sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dengan pendapat siapapun juga (selain beliau). Tidak dibenarkan kita membenturkan sabda beliau dengan ucapan Abu Bakar, meskipun dia adalah orang terbaik di umat ini sesudah Nabi Muhammad   atau dengan perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab zataupun yang lainnya.
Firman Allah :
“(Kami mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pemberi berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya para Rasul itu.” (An-Nisa`: 165)
Sehingga tidak tersisa lagi bagi manusia satu alasan pun untuk membantah Allah dengan telah diutusnya para rasul ini. Merekalah yang telah menjelaskan urusan agama mereka serta apa yang diridhai oleh Allah. Merekalah hujjah Allah terhadap kita manusia, bukan selain mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di t (secara ringkas) mengatakan: “Ayat ini mengajarkan kepada kita bagaimana beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, hendaknya kita berjalan (berbuat dan beramal) mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya, jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam segenap urusan. Dan inilah tanda-tanda kebahagiaan dunia dan akhirat.”
Ibnu ‘Abbas c mengatakan: “Hampir-hampir kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah  bersabda demikian…demikian, (tapi) kalian mengatakan: Kata Abu Bakr dan ‘Umar begini…begini….”
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz t mengatakan: “Tidak ada (hak) berpendapat bagi siapapun dengan (adanya) sunnah yang telah ditetapkan Rasulullah r.”
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan: “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah r, tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat (pemikiran) seseorang.”
Al-Imam Ahmad bin Hanbal t mengatakan: “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi r, berarti dia (sedang) berada di tepi jurang kehancuran.”
2. Bahwa ‘Umar z mengatakan kalimat ini tatkala beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat tarawih berjamaah. Padahal shalat tarawih berjamaah ini bukanlah suatu bid’ah. Bahkan perbuatan tersebut termasuk sunnah dengan dalil yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x, bahwa Rasulullah r pada suatu malam shalat di masjid, kemudian orang-orang mengikuti beliau. Kemudian keesokan harinya jumlah mereka semakin banyak. Setelah itu malam berikutnya (ketiga atau keempat) mereka berkumpul (menunggu Rasulullah r). Namun beliau tidak keluar. Pada pagi harinya, beliau r bersabda:
“Saya telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat bersama kalian) kecuali kekhawatiran (kalau-kalau) nanti (shalat ini) diwajibkan atas kalian.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1129)
Secara tegas beliau menyatakan di sini alasan mengapa beliau meninggalkan shalat tarawih berjamaah. Maka tatkala ‘Umar zmelihat alasan ini (kekhawatiran Rasulullah r) sudah tidak ada lagi, beliau menghidupkan kembali shalat tarawih berjamaah ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa tindakan khalifah ‘Umar z ini mempunyai landasan yang kuat yaitu perbuatan Rasulullah r sendiri.
Jadi jelas bahwa bid’ah yang dimaksudkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab zadalah bid’ah dalam pengertian secara bahasa, bukan menurut istilah syariat. Dan jelas pula tidak mungkin ‘Umar berani melanggar atau menentang sabda Rasulullah r yang telah menyatakan bahwa: “Semua bid’ah itu sesat.”


Syubhat ketiga:

Pemahaman yang salah tentang atsar dari Ibnu Mas’ud z:
“Apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka dia adalah baik di sisi Allah.” (Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad, 1/379)
Bantahan:
- Atsar ini tidak shahih jika di-rafa’-kan (disandarkan) kepada Rasulullah r, tetapi ini adalah ucapan Ibnu Mas’ud zsemata.
Dan diriwayatkan dari Anas ztetapi sanadnya gugur, yang shahih adalah mauquf (hanya sampai) kepada Ibnu Mas’ud z.
- pada kata menunjukkan kepada sesuatu yang sudah diketahui. Dan tentunya yang dimaksud dengan kata Al-Muslimun di sini adalah para shahabat. Dan tidak ada satupun riwayat yang dinukil dari mereka yang menyatakan adanya bid’ah yang hasanah.
- Kalaulah dianggap bahwa ini menunjukkan keumuman (maksudnya seluruh kaum muslimin), maka artinya adalah ijma’. Dan ijma’ adalah hujjah. Maka sanggupkah mereka menunjukkan adanya satu perbuatan bid’ah yang disepakati berdasarkan ijma’ kaum muslimin bahwa perbuatan itu adalah bid’ah hasanah? Tentunya ini adalah perkara yang mustahil.
- Bagaimana mereka berani berdalil dengan ucapan beliau zseperti ini, padahal beliau sendiri adalah orang yang paling keras kebenciannya terhadap bid’ah, di mana beliau z pernah mengatakan:
“Ikutilah! Dan jangan berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupkan. Dan sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.”(Shahih, HR. Ad-Darimi 1/69).
Secara ringkas, semua keterangan di atas yang menunjukkan betapa buruknya bid’ah. Kami simpulkan dalam beberapa hal berikut ini, yang kami nukil dari sebagian tulisan Asy-Syaikh Salim Al-Hilali
Cukuplah semua akibat buruk yang dialami pelaku bid’ah itu sebagai kejelekan di dunia dan akhirat, yakni:
1. Amalan mereka tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah r:

“Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal daripadanya, maka semua itu tertolak.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah x)
2. Terhalangnya taubat mereka selama masih terus melakukan kebid’ahan itu. Rasulullah r bersabda:
“Allah menghalangi taubat setiap pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam As Shahihah no. 1620 dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 21)

3. Pelaku bid’ah akan mendapat laknat karena Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah, atau melindungi kebid’ahan, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ali bin Abi Thalib ).
Akhirnya, wahai kaum muslimin, hendaklah kita menjauhi semua kebid’ahan ini setelah mengetahui betapa besar bahayanya bid’ah. Selain kita menjauhi bid’ah itu sendiri, juga kita diperintah untuk menjauhi para pelakunya apalagi juru-juru dakwah yang mengajak kepada pemikiran-pemikiran bid’ah ini. Seandainya ada yang mengatakan: Bukankah mereka orang yang baik dan apa yang mereka sampaikan itu adalah baik juga? Hendaklah kita ingat firman Allah I:
“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri.” (Al-Anfal: 23)
Perlu pula kita ketahui bahwa bid’ah itu lebih berbahaya dari kemaksiatan. Seseorang yang bermaksiat dia akan merasa takut dan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi atau melarikan diri setelah berbuat. Sedangkan pelaku bid’ah semakin tenggelam dalam kebid’ahannya dia akan semakin merasa yakin bahwa dia di atas kebenaran. Satu lagi, bid’ah itu adalah posnya (pengantar kepada) kekufuran.
Wallahu a’lam. Semoga Allah tetap membimbing kita mendapatkan hidayah dan taufik-Nya serta menyelamatkan diri dan keluarga kita dari bid’ah ini.

 

Mahram ?? ataukah Muhrim ??

mahrom_atau_muhrim.jpgA : Ssst…bukan muhrim nggak boleh jalan berdua!

B : Muhrim? Emang siapa yang haji?
A : Enggak ada yang haji. Ini kan bulan muharam.
B : Lha tadi bilang muhrim?
A : Muhrim itu kan perempuan sama laki-laki yang nggak boleh nikah.
B : #@$%&#(!^*?
Yap…seringkali kita salah mengartikan mahram dengan muhrim. Padahal arti keduanya berbeda jauh. Muhrim adalah orang yang sedang berihram dalam haji ataupun umrah. Adapun Mahram adalah lawan jenis yang haram dinikahi selamanya dan kita diperbolehkan berpergian maupun berjabat tangan dengan mereka. Ada sebuah potongan hadits dalam kitab Shahih Bukhari, Bab Hajju an-Nisaa’:
لَا تُسافر الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ مِنْهَا
“Tidak berpergian (safar) seorang perumpuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1862)
Dan yang dimaksud dengan zhu mahram dalam kalimat di atas adalah siapapun yang tidak diperbolehkan untuk menikahinya dari kerabat (keluarga), seperti bapak, anak laki-laki, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, paman dan yang terpaut dengannya.
Nah…siapa sajakah mahram bagi wanita?
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan bahwa mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya dengan sebab nasab, persusuan, dan pernikahan. Sedangkan Sheikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan dalam Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashu bi al-Mu’minatmengatakan mahram bagi kaum wanita adalah suaminya dan semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, seperti bapak, anak dan saudaranya atau dari sebab-sebab mubah lainnya seperti sepersusuan, ayah ataupun anak tirinya.
Mahram bagi wanita adalah kebalikan dari mahram bagi laki-laki yang Allah jabarkan dalam surat an-Nisaa’ ayat 23. Seorang perempuan diperbolehkan untuk menyentuh mahramnya, memandang mahramnya tanpa syahwat dan berkhalwat (berduaan). Seorang wanita juga diperbolehkan untuk menampakkan wajahnya, rambutnya, dagunya, telapak tangan hingga siku, dan kaki hingga lutut.
Mahram terbagi menjadi dua, mahram muabbad dan mahram muaqqot. Mahram muabbad adalah mahram yang tidak boleh dinikahi selamanya. Adapun mahram muaqqot adalah mahram yang tidak boleh dinikahi hanya pada kondisi tertentu saja, dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal untuk dinikahi, misal karena perceraian, kematian atau habisnya masa ‘iddah.
Mahram muabbad terbagi menjadi tiga, mahram karena nasab, mahram karena sepersusuan dan mahram karena pernikahan.
1) Mahram karena nasab
Mahram karena nasab adalah mahram karena keturunan. Hal ini Allah terangkan dalam surat an-Nuur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka atau putri-putri suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka”
Mahram bagi wanita berdasarkan nasab adalah sebagai berikut:
1. Ayah
Ayah atau bapak jelas adalah mahram kita. Yang termasuk dalam kategori ayah adalah ayah dari bapak maupun dari ibu (kakek) hingga ke atas. Seperti ayahnya kakek (kakek moyang), kakaknya kakek, adiknya kakek, kakeknya kakek dan semua bapak-bapak mereka ke atas.
2. Anak laki-laki
Anak laki-laki juga temasuk mahram kita. Anak-anak dari anak laki-laki kita (cucu) serta anak laki-laki cucu (cicit) dan keturunan ke bawahnya termasuk mahram kita juga. Dan yang dimaksud di sini adalah anak laki-laki kandung bukan anak asuh (atau lebih dikenal dengan anak angkat).
3. Saudara laki-laki
Saudara laki-laki sekandung, sebapak maupun seibu.
4.  Anak laki-laki saudara kandung
Anak laki-laki saudara kandung (keponakan) masih termasuk mahram kita.
5. Paman
Paman di sini bisa adik ayah atau ibu maupun kakak ayah atau ibu. Dalam surat an-Nuur ayat 31 memang tidak disebutkan bahwa paman termasuk mahram. Syeikh Abdul Karim Zaidan rahimahullah mengatakan bahwa kedudukan paman sama kedudukannya dengan kedua orang tua, bahkan tak jarang disamakan kedudukannya dengan bapak. Allah berkalam :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Ilah yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya“.
Dan Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah paman bagi anak-anak nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Jumhur ulama juga berpendapat bahwa paman termasuk mahram.[1]
Selain itu bibi (adik perempuan ayah atau ibu) termasuk mahram bagi seorang laki-laki sebagaimana Allah sebutkan dalam surat an-Nisaa’ ayat 23. Berarti paman juga termasuk mahram bagi seorang perempuan.
2) Mahram karena sepersusuan
Mahram sepersusuan ini terjadi karena sebab susuan seorang ibu yang sama meski bisa jadi bukan saudara kandung. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَحِلُّ لِي، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ
Dia tidak halal bagiku, diharamkan dari persusuan apa yang diharamkan dari nasab,(HR. Bukhari no. 2645)
Maksudnya adalah mahram perempuan berdasarkan nasab sama dengan mahram perempuan berdasarkan susuan.
Mahram sepersusuan juga Allah sebutkan dalam surat an-Nisaa’ ayat 23 :
وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ
“juga ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan”
Dan untuk menjadi mahram sepersusuan terdapat syarat-syarat tertentu. Persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram adalah penyususan yang dilakukan pada masa kecil (sebelum melewati usia 2 tahun) dan lima kali persusuan. Ini adalah pendapat rajih di antara seluruh pendapat para ulama.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ: عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ، ثُمَّ نُسِخْنَ، بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ، فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ
Dahulu dalam Al-Qur’an susuan yang dapat mengharamkan ialah sepuluh kali susuan, kemudian dinaskh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam wafat dan ayat-ayat Al-Qur’an masih tetap dibaca seperti itu. (HR. Muslim no. 1452 berderajat Shohih)
Adapun cara menyusunya, jumhur ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya susu ke dalam perut bayi. Baik menyusu langsung ke perempuan tersebut maupun ditaruh di gelas, atau tempat lain baru kemudian diminum oleh si bayi. Ulama berbeda pendapat tentang usia.
Dan yang termasuk mahram yang disebabkan karena persusuan adalah :
a. Bapak Persusuan
Yang dimaksud dengan bapak persusuan di sini adalah suami dari ibu yang menyusui. Sama seperti mahram berdasarkan nasab, bapak dari bapak atau ibu persusuan juga termasuk mahram. Begitupun dengan bapaknya kakek ke atas.
b. Anak laki-laki dari ibu susu
Yang termasuk anak laki-laki dari ibu susu ini adalah cucu dari anak laki-laki ibu persusuan.
c. Saudara laki-laki persusuan
d.  Keponakan persusuan
Maksudnya adalah anak laki-laki dari saudara sesusu laki-laki.
e. Paman persusuan
Sama seperti paman berdasarkan nasab. Yang dimaksud paman persusuan di sini adalah saudara laki-laki dari bapak atau ibu susu.
3) Mahram karena Mushaharah
Yang dimaksud dengan mahram mushaharah adalah mahram yang terjadi karena pernikahan. Dan mahram wanita yang disebabkan mushaharah adalah orang-orang yang haram menikah dengan wanita tersebut selama-lamanya., seperti ibu tiri, menantu dan mertua.[2]
Allah berkalam dalam surat an-Nisaa’ ayat 22 :
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“…dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu (ibu tirimu)…”
Ayat 23 :
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْوَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ.
“Diharamkan atas kamu (menikahi)……ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); …”
an-Nuur ayat 31 :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِن….
“…Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka …”
Dari ayat-ayat di atas dapat diketahui bahwa yang termasuk mahram mushaharah adalah :
a. Suami
b.  Ayah mertua
c.  Anak tiri
Anak laki-laki suami dari istri lain.
d. Ayah tiri
Suami dari ibu tetapi bukan bapak kandungnya.
e. Menantu laki-laki
Suami dari putra kandung.
Itulah beberapa golongan yang termasuk mahram bagi perempuan. Anggota keluarga atau kerabat selain yang disebutkan di atas berarti bukan mahram kita dan kita tidak boleh menampakkan aurat maupun berkhalwat dengan mereka. Berarti ayah angkat, saudara sepupu maupun saudara ipar bukan termasuk mahram kita. Dan kita harus menutup aurat kita di depan mereka.
Wallahu ta’ala a’lam
Sumber :
-  Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashu bi al-Mu’minat, Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan
-  al-Mufashal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim fi asy-Syariah al-Islamiyah, Dr. Abdul Karim Zaidan
-   al-Mughni, Ibnu Qudamah

 


[1] Dr. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim fi asy-Syariah al-Islamiyah, (Beirut : 1993) h. 159
[2]Dr. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim fi asy-Syariah al-Islamiyah, (Beirut : 1993) h. 162. Beliau merujuk dari Syarh al-Muntahamiliki al-Hanbali jilid 3 h.7

menerima pesanan shopping bag

SHOPPING BAG BERMACAM UKURAN, HARGA MULAI Rp.500,-

Kami mengerjakan / menerima pesanan shopping bag. Harga mulai Rp.500,- / lembar.Info lengkap 0888 06 729 129

Kami mengerjakan / menerima pesanan shopping bag. Harga mulai Rp.500,- / lembar.
Info lengkap 0888 06 729 129

Tafsir Surat An-Nur 30-31

Beberapa Pokok Bahasan Dalam Surat An Nur 30-31 :


1.0     Batas Batas ‘Aurat Wanita

2.0     Perihal Perhiasan Wanita

3.0     Perintah Memakai Tudung

4.0     Perihal Batasan ‘Aurat Wanita dengan Kaum Kerabat

5.0     Perihal Batasan ‘Aurat Wanita dengan Selain Kaum Kerabat

6.0     Perihal Aurat Wanita di Hadapan Hamba

7.0     Perihal Aurat Wanita di Hadapan Lelaki yang Sudah Tidah Berkemahuan

8.0     Perihal Aurat Wanita di Hadapan Kanak-kanak

9.0     Perihal Wanita dan Haruman

10.0   Perihal Suara Wanita

11.0   Adab-Adab Pergaulan Lelaki dan Wanita

12.0   Tafsir Surah Al Nur dan Perintah Allah dan Rasul kepada Mu’minin dan Mu’minah


     Batas-Batas ‘Aurat Wanita

Mereka hendaklah menghindarkan diri daripada memuaskan nafsu syahwat secara haram dan juga daripada membuka aurat mereka di hadapan orang lain. Walaupun perintah kepada lelaki adalah sama dengan wanita dalam hal ini, tetapi sempadan aurat untuk wanita adalah berbeza dari yang diperintahkan kepada lelaki. Lagipun, aurat wanita terhadap lelaki adalah berbeza dengan yang diperintahkan terhadap wanita sendiri.

Aurat seorang wanita terhadap lelaki ialah keseluruhan tubuh badannya kecuali tangan dan muka. Ia tidak boleh dibuka di hadapan lelaki lain. Wanita tidak dibenarkan memakai pakaian yang nipis atau yang ketat yang mengikut bentuk badan dan yang boleh menampakkan kulit. Menurut satu hadith dari A’ishah, pernah kakaknya Asma’ datang menemui Rasulullah s.a.w. dengan pakaian yang nipis. Rasulullah s.a.w. dengan segera memalingkan mukanya dan berkata:

“Wahai Asma’, apabila seorang wanita telah baligh, dilarang membuka bahagian badannya kecuali muka dan tangan”  (Abu Dawud)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan peristiwa yang sama daripada kata kata A’ishah bahawa satu ketika anak perempuan Abdullah bin Tufail. datang menziarahinya. Apabila Rasulullah s.a.w. masuk ke dalam rumah, baginda nampak perempuan itu tetapi memalingkan mukanya ke arah lain.

A’ishah berkata:

“Ya RasululLah, dia itu anak saudaraku”. Lalu Rasuiullah s. a. w. pun berkata: Apabila wanfta itu sudah baligh haram baginya menampakkan badannya kecuali tangan dan muka”. Kemudian baginda menunjukkan maksud tangan itu dengan menggenggam tangannya sendiri daripada pergetangan tangan supaya tidak ada bahagian lebar yang tertinggat antara pergelangannya dan tapak tangannya”

Kelonggaran ini hanyalah untuk saudara mara yang rapat, seperti saudara lelaki, bapa dan lain lain, kerana keadaan yang memerlukan seperti membuat kerja kerja rumah. Contohnya dia boleh menggulung lengan bajunya semasa mengaul tepung atau melipat seluarnya semasa mencuci lantai.

Sempadan aurat wanita terhadap wanita, sama seperti sempadan aurat lelaki terhadap lelaki, iaitu daripada pusat hingga ke lutut. Ini tidak bermakna bahawa wanita boleh berkeadaan separuh telanjang di hadapan wanita lain. Ia hanyalah bererti yang bahagian dari pusat ke lutut mestilah sentiasa ditutup dan tidak pula bahagian lain.

Jika diperhatikan, tuntutan undang undang Allah yang diberikan terhadap wanita bukan hanya tuntutan yang dibuat terhadap lelaki, iaitu menahan pandangan dan memelihara kemaluan, tetapi ia juga menuntut beberapa perkara lain daripada wanita yang tidak dituntut dari kaum lelaki. Ini menunjukkan bahawa wanita dan lelaki berbeza dalam hal ini.

    Perihal Perhiasan Wanita

“Perhiasan” termasuklah baju baju yang menarik, barang barang perhiasaan dan lain lain perhiasaan kepala, muka, tangan, kaki dan lain lain yang selalunya digunakan oleh wanita yang disebut dengan perkataan moden ‘alat solek’. Perintah melarang menunjukkan ‘alat solek’ ini akan diperbincangkan secara terperinci dalam nota berikutnya.

Berbagai bagai terjemahan yang diberikan oleh berbagai bagai mufassirin tentang ayat ini dan telah mengelirukan pengertiannya yang sebenar. Maksudnya yang jelas kelihatan ialah “Wanita dilarang menampakkan persolekan dan perhiasan mereka kecuali yang nampak dengan sendiri” dan yang melebihi had kawalan mereka. Ini jelas bermaksud bahawa wanita dilarang dengan sengaja menampakkan alat solek mereka. Tetapi tiada dosa jika alat soleknya ternampak kerana tidak sengaja dan tanpa ditiup angin dan menampakkan perhiasannya atau baju luar itu sendiri yang tidak dapat disembunyikan lagi walaupun is boleh menjadi satu tarikan kerana ia adalah sebahagian daripada pakaian wanita. (Talfsiran ini yang telah diberikan pada ayat ini ialah daripada Abdullah bin Mas’ud, Hassan Basri, Ibnu Sirin dan Ibrahim Nakhai.)

Berlainan dengan ini, pihak mufassirin lain pula berpendapat bahawa ayat ini bermaksud “semua bahagian badan yang setaIunya nampak dan terbuka” dan mereka maksudkan juga tangan dan muka dan segala perhiasannya. (lnilah pendapat Ibnu Abbas dan pengikut pengikutnya dan segolongan ulama Hanafi)

Oleh itu, menurut mereka, wanita dibenarkan keluar dengan bebas dengan. muka yang terbuka yang telah disolek perhiasan perhiasana di tangan.

Walaupun begitu, kami (Sayyid Abul Ala al Mawdudi) tidak dapat menyetujui pendapat ini. Terdapat perbezaan yang besar antara “menampakkan sesuatu” dan “yang menjadi nampak dengan sendirinya”. Yang pertama bererti “sengaja” dan yang kedua bererti “terpaksa atau dalam keadaan tiada berupaya”. Lagipun tafsiran seperti itu menyalahi hadith hadith yang menyatakan bahawa wanita dilarang keluar dengan muka yang terbuka pada zaman Rasulullah s.a.w. dan selepas perintah purdah ditununkan. Perintah perintah ini juga bererti menutup muka menjadi sebahagian daripada pakaian wanita kecuali semasa haji di mana seseorang itu mesti berkeadaan ihram dan membuka mukanya. Satu lagi’ hujah yang diberikan untuk menyokong pendapat ini ialah tangan dan muka tidak termasuk aurat wanita, padahal aurat dan purdah adalah dua perkara yang berbeza. Kesucian aurat tidak boleh dicabuli walaupun di hadapan muhrim lelaki seperti bapa. saudara lelaki dan lain lain. Purdah pula melebih aurat yang bererti mengasingkan wanita daripada lelaki bukan muhrim; perbincangan di sini hanyalah berhubung dengan perintah purdah dan bukan satar.

  Perintah Memakai Tudung

Semasa zaman jahiliyyah sebelum Islam, wanita wanita selalu menggunakan sejenis ikat kepala yang diikat dan disimpulkan di belakang kepala. Belahan bajunya di hadapan dibiarkan terbuka separuh dan menampakkan leher dan sebahagian atas dada. Tiada lain yang menutupi dada dan buah dada kecuali hanya baju itu dan rambutnya pula didandan dengan dua atau tiga jalinan dan diikat di belakang seperti ekor.

Pada masa ayat ini diturunkan. tudung kepala pun diperkenalkan kepada wanita Islam yang digunakan untuk menutup kepala, buah dada dan bahagian belakang sepenuhnya. Bagaimana wanita Islam menyahut perintah ini telah diceritakan oleh A’ishah dengan jelas sekali. Dia menyatakan bahawa apabila surah al Nur diturunkan dan orang orang Islam pun mempelajarinya daripada Rasulullah s.a.w, mereka pun segera balik ke rumah masing masing dan membacanya kepada isteri isteri, anak anak perempuan dan saudara saudara perempuan mereka. Merekamereka ini menyahut dengan serta merta. Wanita Ansar, seorang demi seorang dan kesemuanya bangun serta merta untuk membuat tudung itu daripada apa saja kain yang ada di tangan mereka. Keesokan paginya, kesemua wanita yang datang bersembahyang di Masjid Nabi berpakaian yang berbungkus. Dalam satu hadith lain, A’ishah berkata bahawa kain kain yang nipis dibuang dan semua wanita itu memilih kain yang kasar untuk bertudung.

Kain penutupan yang diperintahkan itu hendaklah bukan dibuat daripada kain yang halus dan nipis. Wanita Ansar memahami tujuan sebenar perintah ini dan mengetahui kain jenis apakah yang patut digunakan. Allah sendiri telah menjelaskannya dan tidak membiarkan perintah Nya difahami sendiri oleh manusia.

Dihya Kalbi menyatakan yang mafhumnya:

“Satu ketika, Rasulullah s. a. w. dihadiahkan dengan sekeping kain kasa yang halus. Baginda berikan sedikit daripada kepadaku dan berkata: “Gunakan sebahagian daripadanya untuk baju kamu dan selebihnya berikan kepada isterimu untuk dibuat tudung tetapi dia hendaklah jahitkan sekeping kain lain di dalamnya supaya badannya tidak kelihatan menerusinya”  (Abu Daud)

Ayat ini menceritakan batas kawasan yang dibenarkan. untuk wanita berjalan dengan bebas dengan segala persolekan dan perhiasan mereka. Luar dari lengkongan ini is tidak dibenarkan keluar dengan alat solek di hadapan orang lain, saudara mara ataupun orang yang tidak dikenali. Maksud perintah ini ialah wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya di luar lengkongan ini dengan sengaja atau kerana kecuaiannya. Walaupun begitu apa yang ternampak dengan tidak sengaja setelah diberi perhatian dan jagaan atau apa apa yang adak boleh disembunyikan, adalah dimaafkan Allah.

   Perihal Batasan ‘Aurat Wanita dengan Kaum Kerabat

‘Bapa’ termasuk juga datuk dan bapa datuk (moyang) daripada pihak bapa dan juga pihak ibu. Wanita juga boleh menampakkan dirinya di hadapan datuk suaminya seperti dia berhadapan dengan bapanya sendiri atau bapa mertuanya.

‘Anak lelaki’ termasuk juga cucu lelaki dan anak cucu lelaki (cicit) daripada anak lelaki atau anak perempuan. Tiada bezanya antara anak sendiri dan anak tiri.

‘Saudara lelaki’ termasuk juga saudara kandung dan saudara tiri.

Anak lelaki saudara lelaki dan saudara perempuan termasuk juga anak lelaki, cucu lelaki dan cicit lelaki daripada ketiga tiga jenis saudara lelaki dan saudara perempuan.

 Perihal Batasan ‘Aurat Wanita dengan Selain Kaum Kerabat

Selepas saudara masa, orang lain pula disebut. Tetapi sebelum kita teruskan, adalah lebih baik jika difahami tiga perkara ini untuk menghindarkan kekeliruan.

  1. Sesetengah ‘ulama’ berpendapat bahawa kebebasan untuk bergerak dan menunjukkan perhiasan wanita hanyalah dihadkan dalam lingkungan keluarga yang telah disebutkan di dalam ayat ini. Yang lain, seperti bapa saudara daripada pihak ibu dan bapa dikecualikan daripada senarai ini dan kerana mereka tidak disebut dalam al guran. Ini bukanlah satu pendapat yang betul. Rasulullah s.a.w melarang A’ishah memakai purdah di hadapan bapa saudara kandungnya dan juga bapa saudara angkatnya.

Satu hadith dari A’ishah yang mengatakan pada satu ketika Aflah, abang Abul Qu’ais, datang menemui A’ishah dan memohon kebenaran untuk masuk ke rumah. Oleh kerana perintah purdah telah pun diturunkan A’ishah enggan memberikan kebenaran. Dengan ini Aflah pun mengirim pesan iaitu:

“Adakah engkau berhijab depanku sedangkan aku bapa saudaramu.” (Sihah Sitta dan Musnad Ahmad)

Tetapi A’ishah masih ragu ragu sama ada is boleh keluar tanpa menutup muka di hadapan saudara yang seperti itu. Sementara itu Rasulullah s.a.w pun balik dan dia membenarkan Aflah melihat A’ishah. Ini menunjukkan Rasulullah s.a.w. sendiri tidak menafsirkan ayat ini seperti yang dibuat oleh para ulama yang mengatakan kebenaran keluar tanpa purdah hanyalah di hadapan saudara mara yang disebut di dalam ayat ini sahaja dan bukan kepada orang lain. Baginda mentafsirkan bahawa tidak perlu memakai purdah di hadapan saudara mara yang mana perkahwinan dengan mereka dilarang, seperti bapa saudara pihak ibu dan bapa, menantu lelaki dan saudara saudara angkat.

  1. Terdapat masalah tentang saudara mara yang dilarang berkahwin hanya buat sementara waktu sahaja; mereka ini tidak masuk dalam kumpulan mahram (di mana wanita bebas menampakkan diri mereka dan perhiasan mereka) ataupun dalam kumpulan orang yang asing yang langsung (di mana wanita dikehendaki memakai purdah di hadapan mereka). Dalam hal ini keputusan yang mutlak tidak ditenukan oleh syari’ah kerana tidak mungkin hal ini ditentukan. Memakai purdah atau tidak dalam keskes tersebut akan bergantung kepada perhubungan antara satu sama lain, umur wanita dan lelaki, ikatan keluarga dan perhubungan mereka dan lain lain keadaan (contohnya: penghuni sebuah rumah atau rumah rumah yang berasingan) Rasulullah s.a.w. sendiri telah memberi contoh dalam perkara ini sebagai panduan kepada kita. Banyak hadith telah menetapkan bahawa Asma’, anak perempuan Abu Bakar, iaitu kakak ipar Rasulullah s.a.w menampakkan dirt di hadapan baginda tanpa menutup muka dan tangan (sehingga pergelangan tangan). Keadaan ini berjalan seterusnya hinggalah Haji Perpisahan yang berlaku beberapa bulan sebelum wafat Rasulullah s.a.w  (Abu Daud)

Ummu Hani, anak Abu Talib dan sepupu Rasulullah s.a.w. juga tidak pernah menutup muka dan tangannya di hadapan Rasulullah s.a.w daripada mula hingga ke akhir hayatnya. Dia sendiri telah meriwayatkan ssatu peristiwa tentang penaklukan Mekah yang mengesahkan bahawa dia tidak memakai purdah di hadapan Rasulullah s.a.w.

Berbeza dengan ini, Abbas pernah menghantar anak lelakinya Fadal, dan Rabi’ah bin Harith bin Abdul Muttalib, sepupu Rasulullah s.a.w, pula menghantar anaknya Abdul Muttalib kepada Rasulullah s.a.w untuk memohon pekerjaan supaya mereka boleh berkahwin setelah mereka boleh mencari pendapatan sendiri. Mereka berdua berjumpa Rasulullah s.a.w di rumah isterinya Zainab, iaitu sepupu Fadal dan sepupu dengan bapa Abdul Muttalib bin Rabi’ah. Tetapi Zainab tidak keluar menemui mereka tetapi hanya bercakap di belakang tabir dengan kehadiran Rasullulah s.a.w. Dengan kedua dua peristiwa tadi maka dapatlah kita buat keputusan seperti yang telah disebutkan di atas.

  1. Dalam kes di mana perhubungan itu sendiri masih ragu-ragu maka purdah hendaklah digunakan walau pun di hadapan saudara yang mahram. Bukhari, Muslim dan Abu Daud meriwayatkan kes Saudah, isteri Rasulullah s.a.w yang mempunyai saudara lelaki daripada hamba wanita. Utbah, bapa Saudah dan bapa budak lelaki itu, meninggalkan wasiat menyuruh abangnya, Saad bin Abi Waqqas memelihara budak lelaki itu sebagai anak saudara kerana di adalah daripada zuriatnya. Bila kes itu diketahui Rasulullah s.a.w baginda menolak tuntutan Sa’d, dan berkata:

“Budak lelaki ini adalah hak dia yang mengeluarkan benihnya dan untuk penzina, biarlah batu menjadi nasibnya.”  (Muslim dan Abu Daud)

Tetapi dalam masa yang sama dia menyuruh Saudah memakai purdah di hadapan budak lelaki itu kerana ragu ragu itu adik lelakinya.

Perkataan ‘Arab nisa-i-hinna bererti “wanita di kalangan mereka”. Sebelum kita membincangkan apakah yang dimaksudkan dengan wanita, adalah lebih baik jika diperhatikan bahawa perkataan yang digunakan bukanlah al Nisa’, yang hanya bermaksud “wanita” tetapi nisa-i-hinna yang bermaksud “wanita di kalangan mereka”. Dalam kes yang terdahulu, wanita Islam dibenarkan membuka purdahnya di hadapan semua jenis wanita dan menampakkan perhiasannya. Walaupun begitu, perkataan nisa-i-hinna telah menghadkan kebebasan ini dalam lingkungan yang terhad. Para ulama mempunyai pelbagai pendapat mengenai apa yang dimaksudkan dengan lingkungan yang terhad ini.

Menurut satu kumpulan, “wanita di kalangan mereka”, ialah wanita Islam sahaja: wanita bukan Islam, zimmi ataupun yang lain dikecualikan dan purdah hendaklah digunakan di hadapan mereka ini seperti juga di hadapan lelaki. Ibnu Abbas, Mujahid dan Ibn Juraij berpendapat demikian dan menyebut satu peristiwa untuk menguatkan pendapat mereka: Khalifah Umar menulis surat kepada Ubaidah:

“Aku mendengar setengah wanita Islam sudah mula pergi ke tempat mandi umum bersama sama dengan wanita yang bukan Islam. Dilarang wanita Islam yang beriman kepada Allah dan akhirat menampakkan badannya di depan wanita lain selain daripada golongannya.” Apabila mendapat surat ini, Abu Ubaidah menjadi amat sedih dan berkata “Semoga muka wanita yang pergi ke tempat mandian itu yang inginkan putih dijadikan hitam di hari akhirat nanti”! (Ibn Jarir, Baihaqi)

Sekumpulan lain, termasuk Imam Razi berpendapat bahwa “Wanita di kalangan kamu” ialah kesemua wanita tanpa pengecualian. Tetapi tidak mungkin pendapat ini boleh diterima kerana jika demikian, perkataan al-nisa sahaja sudah memadai dan tidak perlu lagi dengan perkataan nisa-i-hinna.

Pendapat yang ketiga adalah lebih munasabah dan lebih hampir dengan ayat al Quran, iaitu “wanita dari kalangan mereka” bererti wanita yang biasa dan kenal kepada mereka yang selalu mereka temui dalam kehidupan harian mereka dan wanita yang bersama sama mengerjakan kerja kerja rumah dan kerja-kerja lain, baik yang Islam ataupun yang bukan Islam. Tujuan sebenarnya di sini ialah untuk mengasingkan wanita asing dari lingkungan mereka yang mempunyai latarbelakang kebudayaan dan akhlak yang tidak diketahui ataupun wanita yang perangainya sebelum itu diragukan dan sukar dipercayai.

Pendapat ini juga di sokong oleh beberapa hadith sahih yang menyebut bahawa wanita zimmi pernah melawat isteri isteri Rasulullah s.a.w Perkara sebenar yang menjadi faktor penentu berhubung dengan ini ialah akhlak dan bukan kepercayaan agama. Wanita Islam boleh bertemu dan membuat perhubungan sosial yang baik dengan wanita wanita yang mulia, baik dan suci yang datang dari keluarga yang dikenali dan dipercayai walaupun mereka itu bukan Islam. Tetapi mereka mesti memakai purdah di hadapan wanita yang jahat, buruk akhlak dan keji walaupun mereka itu “Islam”. Pergaulan mereka daripada segi akhlak adalah merbahaya sama seperti pergaulan dengan lelaki lain. Perhubungan dengan wanita yang tidak biasa dan tidak dikenali hendaklah dianggap seperti saudara bukan muhrim. Seseorang wanita boleh membuka mukanya dan tangannya di hadapan mereka tetapi hendaklah menutup badannya yang lain dan menyembunyikan perhiasannya.

 Perihal Aurat Wanita di Hadapan Hamba

Terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama tentang makna yang betul berkenaan perintah ini. Sekumpulan mereka berpendapat ia hanya ditujukan kepada hamba wanita yang dipunyai oleh seorang perempuan. Mereka mentafsirkan perintah Allah ini dengan maksud bahawa seorang wanita Islam boleh menampakkan perhiasannya di hadapan seorang hamba perempuan walaupun hamba itu seorang Musyrik atau Yahudi atau Nasrani. Tetapi ia tidak boleh keluar di hadapan seorang hamba lelaki walaupun hamba itu adalah hak miliknya yang sah kerana menurut perintah purdah, hamba lelaki hendaklah dianggap seperti seorang lelaki asing. (Inilah pendapat Abdullah bin Mas’ud. Mujahid. Hassan Basri. Ibn Sirin. Sa’id bin Musayyab, Ta’us dan Imam Abu Hanifah dan terdapat satu kenyataan dari Imam Shafi’i yang juga menyokong pendapat ini.)

Hujah mereka ialah hamba bukanlah mahram tuannya; jika ia dibebaskan, dia boleh berkahwin dengan tuannya dahulu. Oleh kerana ia seorang hamba tidak bererti ia berhak dianggap sebagai mahram dan membenarkan tuan wanitanya menampakkan diri dengan bebas di hadapannya.

Satu pertanyaan timbul iaitu kenapa perkataan “budak yang mereka milik” hanya dihadkan kepada hamba wanita padahal ianya satu istilah yang umum dan boleh digunakan untuk kedua dua hamba lelaki dan juga wanita. Menurut ulama walaupun rangkai kata “budak yang mereka miliki” disebut selepas “Wanita di kalangan mereka” dalam ayat ini dapatlah difahamkan ianya ditujukan kepada saudara mara dan rakan rakan wanita ini boleh memberi salah faham yang hamba wanita tidak termasuk dalam kumpulan ini. Oleh itu perkataan “budak yang mereka miliki” digunakan untuk menjelaskan bahawa seorang wanita boleh mempamerkan perhiasannya di hadapan hamba wanita seperti di hadapan wanita di kalangan mereka.

Sekumpulan lain pula berpendapat bahawa perkataan “budak yang mereka miliki” termasuk hamba lelaki dan wanita. (Ini adalah pendapat A’ishah. Umm Salamah dan ulama‑ulama lain daripada keluarga Rasulullah s.a.w. dan dari Imam Shafi.)

Hujah mereka bukan hanya atas dasar maksud am perkataan ini. tetapi mereka juga mengambil beberapa peristiwa daripada peristiwa daripada sunnah untuk menguatkan hujah mereka. Contohnya ialah peristiwa di mana Rasulullah s.a.w. pergi ke rumah anaknya, Fatimah bersama dengan hambanya Abdullah bin Musa’dah al Fazari. Pada masa itu Fatimah sedang memakai sekeping kain yang jika cukup menutupi kepalanya akan menampakkan kakinya dan akan menampakkan kepalanya jika ia cuba menutup kakinya. Rasulullah s.a.w sedar akan keadaan yang memalukannya dan berkata:

“Tiada salahnya: hanya ayahmu dan hambamu”  (Abu Daud, Ahmad. Baihaqi dari Abas bin Malik)

Ibn Asakir menyebut bahawa Rasulullah s.a.w telah memberikan hamba itu kepada Fatimah dan dipeliharanya sehingga besar dan kemudian dibebaskan tetapi lelaki itu tidak berterima kasih. Dalam peperangan Siffin, dia menjadi musuh ketat kepada Ali dan penyokong kuat kepada Amir Muawiyah. Mereka juga menyebut kata kata ini daripada Rasulullah s.a.w. untuk menguatkan pendirian mereka iaitu:

“Bila salah seorang dari kamu bersetuju untuk membebaskan hambanya dan hamba itu pula mempunyai apa apa yang diperlukan untuk membeli kebebasannya, maka tuan wanitanya hendaklah memakai purdah di hadapannya.”  (Abu Daud. Tarmizi. Ibnu ‘vIajah dari Ummu Salamah)

Perihal Aurat Wanita di Hadapan Lelaki yang Sudah Tidak Berkemahuan

Terjemahan dalam erti kata yang sebenarnya ialah: “pelayan pelayan Ielaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)”. Maksudnya yang paling ketara selain lelaki mahram ialah lelaki yang memenuhi syarat ini yang membolehkan wanita menampakkan perhiasannya:

Dia hendaklah bebas dari kehendak nafsu syahwat kerana sudah tua ataupun mati pucuk atau lemah akal atau papa dan rendah kedudukan sosialnya serta tidak berdaya menaikkan nafsunya ataupun yang boleh memikirkan perkara perkara yang keji terhadap isterinya, anak perempuan, kakak atau ibu tuannya. Sesiapa yang mempelajari perintah ini dalam semangat yang benar dengan tujuan untuk mentaatinya dan bukan untuk mencari jalan dan helah untuk lari darinya atau melanggar nya, adab menghargai bahwa pembawa surat, tukang masak, tukang pandu kerata tuannya dan lain lain pembantu rumah yang diambil bekerja tidak termasuk dalam kumpulan ini.

Penjelasan yang berikut diberikan oleh beberapa mufasirin dan ulama tentang perkara ini yang menunjukkan lelaki manakah yang dimaksudkan oleh ayat ini :

Ibn Abbas: Maksud ayat ini ialah seorang lelaki yang lurus dan dada minat terhadap wanita.

Qatadah: Lelaki yang miskin vang hanya membuat hubungan denganmu kerana memerlukan sara hidupnya.

Mujahid: Seorang yang bodoh yang hanva memerlukan makanan dan tiada keinginan terhadap wanita.

Al Sha’bi: Seorang yang rendah pangkatnya dan mengharap sepenuh kepada tuannya dan tidak berani memandang dengan pandangan yang jahat kepada wanita wanita di dalam rumah tuannya.

Ibnu Zaid: Seseorang yang tinggal lama dengan satu keluarga sehinggakan ia dianggap sebagai ahli keluarga itu dan telah diperbesarkan di dalam rumah itu dan tidak mempunyai keinginan terhadap wanita-wanita dalam rumah itu. Dia berada di situ hanyalah kerana perlukan sara hidup daripada keluarga itu.

Ta’us dan al Zuhri: Seorang yang bodoh yang tidak berkemahuan kepada wanita ataupun berdaya untuk melakukannva.

Penjelasan yang paling baik berhubung dengan ini ialah satu peristiwa yang berlaku di zaman Rasulullah s.a.w. yang telah disebut dalam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad daripada A’ishah dan Ummu Salamah. Terdapat seorang lelaki yang telah dikembiri di Madinah dan telah dibenarkan bertemu isteri Rasulullah s.a.w. dengan bebas dan juga wanita-wanita llain di bandar itu kerana ketidakupayaannya melakukan hubungan jenis. Satu hari, Rasulullah s.a.w. pergi ke rumah isterinya Ummu Salamah iaitu Abdullah bin Abi Umayyah. Dia memberitahu Abdullah jika Taif dapat ditawan keesokan harinya, dia akan cuba mendapatkan Badia, anak perempuan Ghailan Thaqafi. Kemudian dia mula memuji kecantikan Badia dan juga keghairahan tubuh badannya dan sampai menceritakan tentang auratnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar perbualan ini, beliau pun berkata yang mafhumnya:

“Wahai musuh Allah, kamu seolah olah telah melihatnya betul-betul.”

Kemudian baginda memerintahkan wanita berpurdah di hadapannya dan dia dilarang bebas masuk ke dalam rumah rumah mereka lagi.

Selepas ini baginda menghalaunya keluar dan melarang lelaki kembiri yang lain memasuki rumah rumah kerana wanita wanita tidak melarang kehadiran mereka tetapi dalam masa yang sama lelaki lelaki itu akan menceritakan hal wanita wanita dari sebuah rumah kepada lelaki di rumah yang lain. Ini menunjukkan bahawa perkataan “tiada nafsu syahwat” tidak hanya bererti tidak boleh melakukan hubungan jenis sahaja. Sesiapa yang cacat anggota tetapi masih melayan kehendak nafsunya dan berminat terhadap wanita juga boleh menjadi punca kejahatan.

Perihal Aurat Wanita di Hadapan Kanak-kanak

Aurat Wanita Iaitu kanak kanak yang belum mempunyai nafsu syahwat yang biasanya dalam umur paling tinggi, 11 hingga 12 tahun. Budak lelaki yang lebih tua mungkin sudah mempunyai perasaan syahwat walaupun mereka masih belum dewasa.

    Perihal Wanita dan Haruman

Rasulullah s.a.w. tidak membataskan perintah ini hanya dengan bunyi perhiasan itu tetapi baginda telah menetapkan satu prinsip darinya. Selain dari menenung segala yang menaikkan perasaan adalah bercanggah dengan tujuan Allah melarang wanita menampakkan perhiasannya. Oleh itu baginda melarang wanita keluar dengan memakai bau bauan. Menurut Abu Hurairah, Rasulullah berkata yang mafhumnva:

“Janganlah melarang wanitamu datang ke masjid, tetapi janganlah mereka datang berbau wangi wangian.”  (Abu Daud, Ahmad)

Menurut satu hadith lain, Abu Hurairah lalu di sebelah seorang wanita yang baru keluar dari masjid dan berasa yang wanita iaitu ada memakai wangi wangian. Dia menahannya dan berkata:

“Wahai hamba Allah, adakah kamu datang dari masjid?” Apabila wanita itu mengiakannya, dia berkata lagi. ‘Aku telah mendengar orang yang aku kasihi Abul Qasim berkata sembahyang seseorang wanita yang datang ke masjid dengan bau bauan yang harum tidak akan diterima sehingga dia membersihkan dirinya dengan mandi yang sempurna seperti mandi setelah mengadakan hubungan jenis”.  (Abu Daud. Ibnu Majah, Ahmad. Nasa’i)

Abu Musa Ash’ari berkata bahawa Rasulullah s.a.w. berkata:

“Seseorang wanita yang lalu di jalan dengan memakai bau bauan harum supaya orang lain dapat menikmati keharuman itu adalah ini dan ini: (iaitu penzina).”  (Tarmidhi, Abu Daud, Nasa’i)

Tetapi Rasulullah memerintahkan supaya wanita memakai bau bauan yang terang warnanya tetapi nipis baunya.  (Abu Daud)

  Perihal Suara Wanita

Rasulullah s.a.w. juga melarang suara wanita didengari lelaki jika tidak perlu. Dalam kes yang memaksa al Quran sendiri membenarkan wanita bercakap dengan lelaki dan isteri Rasulullah s.a.w. sendiri mengajar orang lain dalam hal hal keagamaan. Tetapi bila tiada keperluan atau ada tujuan agama dan kebaikan, wanita tidak digalakkan memperdengarkan suaranya kepada lelaki. Oleh itu, jika imam tersalah dalam sembahyang berjemaah dia hendaklah diberi amaran oleh lelaki dengan berkata “SubhanAllah” (Maha Suci Allah) dan wanita pula hendaklah menepuk tangan mereka sahaja. (Bukhari, Muslim, Ahmad, Tarmizi, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah)

Adab Adab Pergaulan Lelaki dan Wanita

Adalah berfaedah juga jika kita memberikan satu ringkasan tentang perkara perkara kebaikan yang lain yang diperkenalkan oleh Rasulullah s.a.w kepada masyarakat Islam setelah turunnya perintah perintah ini.

  1. Dia melarang lelaki lain (walaupun saudara mara) berjumpa dengan seorang wanita sendirian atau duduk bersamanya tanpa kehadiran saudara muhrim wanita itu. Jabir bin Abdullah meriwayatkan kata kata Rasulullah s.a.w iaitu yang mafhumnya:

“Janganlah menziarah wanita yang suaminya tiada di rumah kerana syaitan itu berada di dalam dirimu seperti darah.”  (Tarmidhi)

Menurut satu hadith lain dari Jabir, Rasulullah s.a.w berkata yang mafhumnya:

“Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhhirat, jangan sekali kali berjumpa seorang wanita sendirian kecuali bersama seorang mahramnya kerana orang yang ketiga ialah syaitan”.  (Ahmad)

Imam Ahmad telah menyebut satu hadith dari ‘Amir bin Rabi’ah yang sama bunyinya. Rasulullah sendiri sangat berhati hati dalam soal ini. Satu ketika, baginda ditemani oleh isterinya Safiyyah untuk ke rumahnya pada waktu malam. Dua lelaki Ansar lalu di situ. Rasulullah s.a.w. memberhentikan mereka dan berkata yang mafhumnya:

“Wanita yang bersamaku ialah isteriku, Safiyyah.” Mereka berkata: ” Maha Suci Altah. Ya Rasulullah, bolehkah kami berasa syak terhadapmu?. Rasulullah s.a.w, menjawab: “Syaitan bergerak seperti darah di dalam badan: aku khuatir syaitan akan mendatangkan sesuatu yang tidak baik ke dalam fikiranmu.”   (Abu Daud)

  1. Rasulullah s.a.w. tidak membenarkan tangan lelaki menyentuh badan wanita yang bukan mahramnya. Sebab itulah semasa berbai’ah, baginda hanya memegang tangan lelaki tetapi tidak pernah berbuat demikian terhadap wanita. A’ishah berkata bahawa Rasulullah s.a.w tidak pernah menyentuh badan wanita lain. Baginda akan mengambil bai’ah mereka hanya dengan kata kata; setelah bai’ah dijalankan, baginda akan berkata yang mafhumnya:

“Kamu boleh pergi sekarang, bai’ah sudah sernpurna”  (Abu Daud)

  1. Baginda melarang keras seseorang wanita bepergian seorang diri tanpa seorang mahram atau ditemani oleh seorang bukan mahram. Satu hadith dari Ibnu Abbas yang disebut dalam Bukhari dan Muslim menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. memberi khutbah dan berkata yang mafhumnya:

“Jangan seorang lelaki pun menziarah seorang wanita lain yang sedang bersendirian kecuali seorang mahram berada di sisinya. Janganlah seorang wanita pun berjalan seorang diri kecuali ditemani oleh seorang mahram.” Seorang lelaki bangun dan berkata: “Isteriku hendak pergi mernbuat haji dan aku pula di bawah arahan untuk mengikuti satu peperangan.” Rasulullah s.a.w. berkata: “Kamu boleh pergi haji bersarna isterimu.”  (Bukhari dan Muslim)

Beberapa hadith yang lain daripada Ibnu Umar, Abu Said Khudri dan Abu Hurairah tentang hal ini yang terdapat dalam buku buku hadith sahih juga menyebut larangan wanita Islam yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat bepergian tanpa seorang muhrim.

Walaupun begitu. terdapat perbezaan tentang jangka masa dan jauhnya perjalanan itu. Sesetengah hadith menyatakan batas yang minima ialah 12 batu dan setengah pula berpendapat satu hari, sehari semalam, dua hari ataupun tiga hari.

Perbezaan ini tidak membuatkan hadith itu tidak sahih ataupun kita memilih satu pendapat sahaja untuk dijadikan undang undang daripada pendapat pendapat yang lain. Penjelasan yang munabasah tentang perbezaan pendapat ini ialah mungkin Rasulullah s.a.w telah memberi arahan yang berbeza menurut dan keperluan sesuatu keadaan. Contohnya, seorang wanita yang hendak keluar selama tiga hari tanpa mahram dilarang sementara wanita lain yang hendak keluar sehari perjalanan juga mungkin dilarang. Perkara yang sebenarnya di sini ialah bukan arahan yang berbeza beza untuk orang yang berbeza beza dalam keadaan yang berbeza beza, tetapi prinsipnya ialah wanita tidak boleh bepergian tanpa seorang mahram seperti yang disebutkan di dalam hadith di atas dari Ibnu ‘Abbas.

  1. Baginda bukan hanya mengambil langkah langkah praktikal untuk melarang pergaulan bebas antara lelaki dan wanita tetapi juga melalui kata kata: Setiap orang tahu betapa pentingnya sembahyang jemaah dan sembahyang Jumaat dalam Islam. Sembahyang Juma’at telah diwajibkan oleh Allah sendiri. Kepentingan sembahyang berjemaah juga boleh dinilai dari hadith Rasulullah s. a.w. iaitu yang mafhumnya:

“Jika seseorang tidak hadir di masjid tanpa alasan yang boleh diterima dan bersembahyang di rumah, ia tidak akan diterima Allah.” (Abu Daud, Ibnu Majah, Daraqutni, Hakim daripada Ibnu Abbas)

Walaupun begitu Rasulullah s.a.w telah mengecualikan wanita daripada sembahyang Jumaat di masjid. (Abu Daud, Daraqutni, Baihaqi)

Bagi sembahyang sembahvang jemaah yang lain, kedatangan mereka tidak dipaksa. Baginda berkata: “Jangan menghalang mereka jika mereka hendak datang ke masjid.” Kemudian. dalam masa yang sama baginda menjelaskan bahawa sembahyang mereka di rumah mereka adalah lebih baik daripada di masjid. Menurut Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Rasulullah s.a.w berkata yang mafhumnya:

“Jangan menghalang hamba Allah dari datang ke masjid Allah”. (Abu Daud, hadith‑hadith lain daripada Ibnu Umar)

“Benarkan wanita hadir di masjid pada waktu malam.” (Bukhari. Muslim. Tarmidhi, Nasa’i. Abu Daud)

“Jangan melarang kaum wanitarnu daripada datang ke masjid walaupun rumah mereka adalah lebih baik untuk meraka dari masjid.”  (Ahmad. Abu Daud)

Umm Humaid Sai’idiyyah berkata bahawa dia pernah berkata kepada Rasulullah s.a.w. “Ya Rasulullah, aku tersangat ingin sembahyang di belakangmu.” Jawab baginda yang mafhumnya: “Sembahyangmu di bilikmu lebih baik daripada sembahyang di serambi dan sembahyangmu di dalam rumahmu lebih baik daripada di dalarn masjid yang berhampiran dan sembahyangmu di masjid besar di bandar.”  (Ahmad, Tabarani)

Satu hadith yang sama diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dalam Abu Daud. Menurut Umm Salamah, Rasulullah s.a.w. berkata: “Masjid yang paling baik untuk wanita ialah bahagian yang paling dalam sekali di dalam rumahnya.”  (Ahmad, Tabarani)

Tetapi bila A’ishah melihat keadaan semasa zaman Umayyah, dia berkata:

“Jika Rasulullah dapat menyaksikan kegiatan wanita, tentu dia akan melarang wanita masuk ke masjid seperti larangan terhadap wanita Israel.”  (Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Rasulullah s.a.w. juga telah mengarahkan satu pintu masuk masjid dikhaskan untuk wanita dan semasa Umar memerintah, dia melarang keras lelaki menggunakan pintu itu. (Abu Daud)

Dalam sembahyang jemaah, wanita disuruh berdiri di belakang dan diasingkan dari lelaki; apabila sembahyang telah tamat, Rasulullah s.a.w dan sahabatnya duduk sebentar supaya wanita boleh meninggalkan masjid sebelum lelaki beredar.  (Ahmad, Bukhari)

Rasulullah s.a.w berkata yang mafhumnya:

“Barisan yang paling baik bagi lelaki ialah yang paling hadapan sekali dan barisan yang paling tidak baik ialah yang di penghabisan (paling dekat dengan barisan wanita) dan barisan yang paling baik bagi wanita ialah yang paling belakang dan yang sebaliknya ialah yang hadapan (yang hampir belakang lelaki).”  (Muslim, Abu Daud, Tarmizi, Nasa’I, Ahmad)

Wanita juga turut sama bersembahyang jamaah hari raya tetapi mereka mempunyai kawasan tertutup yang berasingan dari lelaki. Selepas khutbah, Rasulullah s.a.w. selalunya memberi taklimat yang berasingan kepada meraka.  (Abu Daud, Bukhari, Muslim)

Satu ketika Rasulullah s.a.w. ternampak lelaki dan wanita berjalan sebelah menyebelah di khalayak ramai di luar masjid. Baginda memberhentikan para wanita itu dan berkata kepada meraka yang mafhumnya:

“Tidak sopan bagi kamu berjalan di tengah tengah jalan; berjalanlah di tepi.”

Apabila mendengarnya. wanita wanita itu pun mula berjalan di tepi tembok.  (Abu Daud)

Kesemua perintah ini jelas menunjukkan perhimpunan yang bercampur gaul di antara lelaki dan wanita memang tidak dapat diterima Islam. Tidak mungkin undang undang Allah yang melarang lelaki dan wanita berdiri sebelah menyebelah untuk bersembahyang di dalam rumah rumah suci Allah membenarkan mereka bergaul bebas di kolej kolej, pejabatpejabat, kelab kelab dan lain lain perhimpunan.

  1. Baginda membenarkan wanita menggunakan alat solek dengan sederhana malah menyuruh mereka berlaku demikian tetapi melarang keras jika berlebih lebihan. Dari beberapa jenis persolekan dan perhiasan yang banyak digunakan oleh wanita .Arab zaman dahulu ada beberapa jenis yang diisytiharkan oleh baginda sebagai sesuatu yang terkutuk dan merosakkan masyarakat, iaitu:

5.1     Menambah rambut palsu kepada rambut sendiri supaya rambut kelihatan lebih panjang dan lebat

5.2     Mencacah (tattoo) kulit badan dan membuat tahi lalat palsu

5.3     Mencabut bulu kening untuk membentuknya atau mencabut bulu roma di muka supaya muka kelihatan lebih bersih

5.4     Mengasah gigi supaya lebih taj am atau melubangkannya dengan sengaja

5.5     Menyapu muka dengan kunyit (atau warna kuning) atau lain lain alat solek untuk menjadikan air muka yang lain daripada asal.

Kesemua perintah ini diriwayatkan dari A’ishah, Asma’ binti Abu Bakar. Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan Amir Muawiyah melalui perawi perawi yang boleh dipercayai.

12.0     Tafsir Surah Al Nur dan Perintah Allah dan Rasul kepada Mu’minin dan Mu’minah

Setelah memahami perintah perintah Allah dan Rasul Nya yang jelas ini, seseorang Islam itu hanya mempunyai dua pilihan. Satu, dia hendaklah mengamalkan semua perintah perintah ini dalam kehidupannya dan mensucikan dirinya, keluarganya dan masyarakat keseluruhannya daripada keruntuhan akhlak. Untuk menghapuskan nilai nilai buruk ini, Allah dan Rasul Nya telah memberi hukum hukum secara terperinci. Pilihan kedua pula, seseorang Islam yang mempunyai beberapa kelemahan, akan melanggar satu atau dua daripada perintah perintah ini. Sepatutnva dia hendaklah sedar bahawa dia telah melakukan dosa dan menghindarkan diri daripada salah faham dengan menganggap perbuatannya sebagai satu perbuatan yang baik.

Selain dari dua pilihan ini, mereka yang mengambil cara hidup barat yang bercanggah dengan perintah al Quran dan sunnah serta cuba sedaya upaya mereka untuk membuktikan yang ianya Islam dan cuba membuktikan tiada purdah dalam Islam, bukan hanya melakukan dosa kerana ingkar tetapi juga menunjukkan kejahilan, kedegilan dan kepura puraan. Sikap yang begitu tidak sepatutnya dipunyai oleh seseorang yang berfikiran baik di dunia ini ataupun yang akan mendapat kebaikan dari Allah di Akhirat nanti. Tetapi di kalangan orang orang Islam, terdapat segolongan masyarakat moden yang berpura pura dan oleh kerana terlalu jauh kepura puraan mereka sehingga sanggup menolak suruhan suruhan Allah dan memalsukannya pula dan mempercayai cara cara hidup barat yang mereka pinjam daripada masyarakt bukan Islam itu betul dan berasaskan kepada kebenaran.

Orang orang seperti ini tidak dikatakan Islam langsung dan jika mereka masih dianggap Islam. maka perkataan perkataan ‘Islam’ dan ‘tidak Islam’ hilang artinya dan kepentingannya sama sekali. Jika mereka menukarkan nama Islam mereka dan mengumumkan di khalayak ramai bahawa mereka sudah meninggalkan Islam, maka sekurang kurangnya kita telah yakin akan keberanian mereka. Tetapi, di sebalik sikap mereka yang jahil itu, mereka masih menunjukkan yang mereka Islam. Mungkin tidak terdapat golongan manusia yang lebih hina daripada mereka di dunia ini. Manusia yang bersifat dan berakhlak demikian mesti bergelumang dalam kepalsuan, kekecohan, kecurangan dan penipuan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.